Menikah: Kehidupan Lebih Mudah dan Indah

Di antara karya yang dimuat di koran. Ada saja jalan rezeki.

[Sebuah Kisah Nyata]

Banyak sekali orang yang berpendapat bahwa kehidupan setelah menikah akan menjadi terarah dan mudah. Seseorang yang telah menikah akan ada saja jalan rezekinya. Misalnya, orang yang belum menikah tidak mempunyai apa-apa, namun setelah menikah ia ternyata dapat membeli kebutuhan dan perabot rumah tangga. Meskipun pandangan sederhana dan bersifat material seperti itu belum sepenuhnya tepat bila dijadikan barometer kesuksesan seseorang, namun setidaknya kita menjadi tahu bahwa memang dengan menikah, banyak yang sudah membuktikan bahwa kehidupan akan menjadi lebih mudah dan indah.

Sebagaimana juga dengan saya. Semenjak kuliah, pekerjaan saya berkisar di seputar koran dan majalah. Hal ini saya lakukan, di samping saya senang, adalah demi membantu meringankan beban orangtua saya di Jombang. Pada semester satu, saya berjualan koran di sebuah perempatan kota. Anda bisa membayangkan bagaimanakah perasaan saya ketika bertemu dengan teman-teman atau bahkan dosen saya saat berjualan. Tetapi, sungguh saya enjoy saja. Sebab, saya merasa pekerjaan ini adalah halal. Di samping itu, pekerjaan ini sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi saya. Sebab, ketika sekolah di Jombang, sepanjang jalan dari pesantren menuju sekolah, saya mesti mengantarkan koran pagi-pagi kepada para pelanggan.

Tidak lama saya berjualan koran di Jogja, akhirnya saya ingin menulis saja di koran atau majalah. Hal ini saya lakukan karena tiba-tiba saya teringat, bahwa dulu ketika di Jombang, beberapa kali puisi saya dapat dimuat di sebuah majalah terbitan Surabaya. Mengapa saya tidak menulis saja, begitu pikir saya saat itu. Akhirnya, saya pun menulis puisi, cerpen, esai, maupun resensi buku. Dan, pada pertengahan kuliah, setelah magang selama tiga bulan dan diterima, selanjutnya saya bergabung menjadi seorang wartawan di sebuah koran daerah. Begitulah.

Tetapi, meskipun kuliah sambil bekerja, bahkan sempat saya cuti dua semester karena terlalu asyik liputan dan sebangsanya, apakah segala kebutuhan saya mampu terpenuhi? Tidak selalu demikian. Sekali waktu memang saya dapat sekadar membantu mengirimi orangtua. Namun, kadang kala juga saya masih meminta kiriman uang dari orangtua. Lantas kalau dipikir-pikir, untuk mencukupi kebutuhan sendiri saja belum sepenuhnya bisa, bagaimanakah dengan setelah menikah?

Bismillah…, Menikah

Dari pertanyaan tersebut, banyak sekali di antara kita, akhirnya tidak berani segera menikah. Meskipun sudah berumur. Atau, bahkan sudah sarjana. Lagi-lagi, alasannya belum bekerja, belum mapan, dan sebagainya. Padahal, calon sudah punya, hingga berpacaran begitu berani. Na’udzubillah! Sudah barang tentu, hal ini tidak berlaku bagi mereka yang berani dan memang ingin sekali menikah, namun belum menemukan calon pasangan. Untuk kasus yang disebut terakhir ini, bersabarlah sambil terus berusaha dan berdoa. Yakinlah, Allah akan memberikan yang terbaik.

Kembali kepada persoalan keraguan atau kekhawatiran akan keadaan kita setelah menikah, sehingga kita menjadi terlalu banyak, sekali lagi, terlalu banyak pertimbangan akhirnya malah tidak jadi menikah. Seharusnya, kita meyakini janji Allah, bahwa Allah akan menolong orang-orang yang sudah menikah. Bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dan kemudahan kepada orang-orang yang telah membangun rumah tangga.

Allah Swt. berfirman:

“…Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. an-Nuur [24]: 32).

Dan, memang benar janji Allah itu. Tinggal kita mau meyakini atau tidak. Seperti halnya dengan saya. Pertimbangan-pertimbangan yang saya lakukan (sejujurnya bukan pertimbangan, tetapi bentuk lain dari keraguan dan tidak keberanian saya) sempat membuat saya mundur beberapa langkah dari niat untuk segera menikah. Apalagi, ada seseorang yang mengatakan, “Apa istri Ente nanti diberi makan batu?” Namun, seorang kawan meyakinkan saya kembali. Bahwa percayalah, Allah pasti memberikan jalan keluar. Allah ‘Azza wa Jalla pasti mengeluarkan kita dari kesulitan. Tinggal kita mau percaya atau tidak. Itu saja!

Seorang kawan itu mengibaratkan, jika sebelum menikah usaha dan berdoa dilakukan sendirian, kini setelah menikah dilakukan secara bersama, antara suami dan istri. Jika sebelum menikah kita merintih sendiri di hadapan Allah karena keterjepitan keadaan kita, namun setelah menikah ada doa yang saling menguatkan, antara suami dan istri, sama-sama sambat di haribaan Allah Yang Maha Segalanya.

Sungguh Benar Janji Allah

Kini, setelah menikah, berkali-kali saya terhenyak bersama istri, lantas menghaturkan puji syukur bersama ke hadirat Allah ‘Azza wa Jalla. Dulu sebelum menikah, waktu saya untuk menulis di koran atau majalah sesungguhnya lebih banyak daripada setelah menikah. Sebelum menikah, investigasi berita terkadang lebih total, seakan tidak mengenal waktu siang atau malam. Tapi, setelah menikah, saya mesti bisa mengatur waktu. Ada waktu untuk istri dan keluarga. Pulang pun tidak sembarangan bisa larut malam. Tapi, mengapa jika dihitung-hitung, penghasilan lebih banyak setelah menikah.

Dahulu sebelum menikah, selain berita, hanya beberapa koran daerah saja yang mau rutin memuat tulisan saya. Padahal, saya juga boleh dibilang tidak pernah putus asa untuk mengirim tulisan ke koran nasional. Tetapi, mengapa setelah menikah tulisan-tulisan saya, terutama puisi, sering dimuat di koran nasional. Padahal, beberapa tulisan saya yang dulu ditolak itu justru setelah menikah saya kirim ulang. Namun, sekali lagi, mengapa setelah menikah lebih banyak yang dimuat.

Pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut bagi saya sesungguhnya adalah tidak sekadar sebuah kebetulan. Namun, inilah sesungguhnya bentuk perwujudan dari janji Allah ‘Azza wa Jalla. Dan, masih banyak contoh sebenarnya (hal-hal yang tidak saya dapatkan sebelum menikah, namun setelah menikah justru saya mendapatkannya) yang tidak mungkin saya sebut satu per satu dalam pembahasan ini.

Demikian tulisan berdasar kisah nyata ini. Semoga bermanfaat bagi kita bersama.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Bidang Pendidikan Rumah Tahfidz Masjid Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Menikah: Kehidupan Lebih Mudah dan Indah

  1. Hastira berkata:

    semua tergantung pribadi, krn baahgia bisa diusahakan bersama

  2. ysalma berkata:

    Barakaallah, pak.
    Pernikahan yang niatnya melengkapi din, memang membawa berkah bagi kedua belah pihak ya Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s