Membangun Rasa Nyaman dalam Pergaulan

Penulis sewaktu mengisi acara di MQFM Jogja.

Misal, kita seneng banget jadi pegawai negeri, maka bila ketemu teman yang bekerja di luar pegawai negeri, tak perlu berkata, “Lho kenapa, ga daftar ya?” Padahal, tidak sedikit orang yang memang sengaja ga daftar pegawai negeri karena memang tidak ingin sama sekali.

Begitu pula sebaliknya, bila kita memang senang bekerja di bidang swasta, atau usaha, maka tak perlu berkata kepada teman yang kerja sebagai pegawai negeri, “Kamu kok mau ya bekerja jadi pegawai negeri?” Sebab, tidak sedikit orang yang cita-citanya memang ingin jadi pegawai negeri.

Demikian mestinya pula terhadap anak-anak kita. Maka, pilihan kuliah anak-anak kita, atau pilihan kerja anak-anak kita setelah kuliah, tidak harus sama dengan yang kita idealkan sebagai orang tua.

Bagi kita yang sudah menikah, sungguh tak perlu berkomentar, “Kapan?”, “Yang dicari kayak apa sih?” kepada teman yang belum menikah. Demikian pula soal anak, sungguh tidak perlu berkomentar, “Kenapa anaknya baru satu? Tunggu apalagi?” Bisa jadi, ia memang sudah berusaha dan berdoa, tapi takdir yang dijalaninya saat ini memang demikian. Dan, ia menjalani hidupnya dengan bahagia.

Ada yang bilang, ini kan bentuk perhatian sama teman. Ini bagian dari cara untuk nantinya membantu teman bila ia membutuhkan. Sungguh, bila benar membantu dan perhatian, tentu ada banyak cara lain yang lebih membuat hati teman kita nyaman dan menyenangkan.

Sebab, ada orang yang tidak begitu ngaruh dengan komentar teman. Biasa saja. Tapi, ada pula yang merasa tidak nyaman bila komentarnya mengenai pribadi dan keadaannya. Sungguh, ini penting untuk kita perhatikan dalam pergaulan.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Bidang Pendidikan Rumah Tahfidz Masjid Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Ihsan dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Membangun Rasa Nyaman dalam Pergaulan

  1. sondang Saragih berkata:

    Katanya itu memang bentuk perhatian Pak dan wajib dilakukakan walaupun hanya basa basi.
    Dan,,, aku bolak balik “kena sentil” ketika ada acara kumpul keluarga karena jarang mengeluarka basa basi perhatian seperti itu…
    Tapi kalo dari pihakku sih, sudah ngerti kalau aku memang begitu.

  2. Titik Asa berkata:

    Kadang kita gak sadar apa yang kita ucapkan dapat dalam menghujam perasaan orang lain, seperti pertanyaan sederhana, “kapan nikah?”
    Jadi benar-benar harus hati-hati dalam berkomunikasi.
    Kurang lebih begitu ya Mas?

    Salam dari Sukabumi, Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s