Menimbang Keyakinan

Masjid Jami’ Baiturrahim, Sopalan Sabo, Maguwoharjo, Sleman.

Mempunyai keyakinan itu sangat penting. Dengan keyakinan yang kuat seseorang lebih mudah menggapai kesuksesan.

Tanpa keyakinan, keraguan-raguan sering menjadi penyakit yang sulit disembuhkan dalam kehidupan seseorang. Bila sudah demikian, penyakit-penyakit berikutnya pun segera mengiringinya, seperti rasa minder, tidak punya keberanian untuk bersikap, atau selalu dibayang-bayangi rasa takut akan kegagalan.

Hal yang paling penting atau utama untuk dilakukan adalah belajar meyakini Allah Swt. Ini adalah keyakinan fundamental yang tidak bisa diganggu gugat. Sebab, hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla kita menyembah, mengabdi, dan memasrahkan segala keputusan setelah kita berikhtiar sepenuhnya. Hanya kepada Allah Yang Maha Kuasa kita memohon pertolongan dan menggantungkan segala harapan. Hanya kepada Allah Swt. semata.

Sungguh, segala yang lain, apa pun itu, tidak ada yang bisa mengungguli Allah, menyamai pun tidak. Semuanya berada di bawah kekuasaan Allah Swt.

Bukankah keyakinan yang demikian telah bersemayam dalam ruang hati kita yang paling dalam? Bahkan, semenjak kita mengakui diri sebagai orang Islam; semenjak kita mengucapkan dua kalimat syahadat.

Keyakinan terhadap Allah Swt. ini telah berada dalam hati kita. Meskipun, tidak jarang di antara kita masih berat dalam melaksanakan perintah-Nya. Dan, harus kita akui, tidak jarang pula di antara kita begitu ringan melanggar larangan-Nya. Tetapi, kita masih mempunyai keyakinan sebagaimana yang sering kita ungkapkan kepada-Nya ketika kita melakukan shalat:

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. al-Faatihah [1]: 5).

Sungguh, keyakinan yang demikian telah ada dalam hati kita. Ini terbukti hingga hari ini pun kita masih tidak mau ketika disuruh menyembah dan tunduk kepada selain Allah. Kita tidak mau ketika diminta menyembah pohon besar, batu besar, laut luas, atau berhala-berhala yang lain. Kita ketakutan bila diminta untuk melakukan semua itu. Kita takut dosa. Ya, dosa yang besar.

Meskipun, harus diakui bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang di antara kita tunduk kepada pimpinan, orang yang mempunyai kekuasaan, atau pihak yang kita anggap bisa memutuskan terhadap baik-tidaknya karier atau rezeki kita, melebihi ketundukan kita kepada Allah Swt.

Ya, keyakinan pokok yang demikian memang benar-benar sudah ada dalam hati kita seiring dengan kesadaran bahwa kita masih mengakui diri dan bangga sebagai orang Islam.

Ini terbukti hingga hari ini pun kita masih suka berdoa kepada Allah Swt., memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyandarkan harapan kepada-Nya. Kita tidak mau bila disuruh memohon kepada paranormal, kuburan, atau tempat-tempat yang dianggap keramat.

Meskipun, diam-diam kita juga harus mengakui bahwa dalam hati kita bertakhta keyakinan dan ketergantungan yang sangat besar kepada jabatan, karier, atau jenis usaha tertentu jauh melebihi keyakinan dan ketergantungan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Sungguh luar biasa dengan kita ini. Sebuah keyakinan yang nyata-nyata berbeda, berlainan arah, bisa menghuni secara bersama-sama dalam hati kita.

Betapa kita menyembah dan tunduk kepada Allah, tetapi pada saat yang lain atau pada urusan tertentu (biasanya yang lebih bersifat duniawi) kita menyembah dan tunduk kepada selain-Nya. Betapa kita berdoa dan menggantungkan harapan kepada Allah, tetapi pada saat yang berbeda kita sangat tergantung kepada selain-Nya.

Bila kenyataannya demikian, sekali lagi, sungguh luar biasa dengan kita ini. Luar biasa sekaligus menyedihkan. Mengapa menyedihkan? Ketahuilah duhai Saudaraku tercinta, inilah awal dari kehancuran kita. Kehancuran keimanan kita kepada Allah Swt. karena kita telah membuat sekutu selain-Nya; kehancuran dari setiap usaha yang kita lakukan di dunia ini (yang meskipun sukses) karena tidak ada keberkahan dalam kehidupan ini. Na’udzu billah!

Marilah bersama-sama kita memohon kepada Allah Swt. agar diberi kekuatan dapat menghindar dari keyakinan yang buruk seperti ini.

Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk dari Allah Swt.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Iman dan tag , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Menimbang Keyakinan

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Amazzet…

    Apa khabar ? Didoakan sihat sejahtera.
    Sungguh, apabila keyakinan kepada Allah sudah menetap kukuh di dalam hati, tidak ada sesuatu yang dapat menakutkan kecuali Allah SWT. Dengan seluruh keyakinan yang berpadu satu menjadikan kita hamba yang bertakwa, melakukan apa yang disuruh dan meninggal apa yang dilarang. Semoga keyakinan semakin teguh hingga ke akhir hayat. Aamiin.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    • Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh

      Alhamdulillaah…, kabar baik, Mbak Fatimah, semoga demikian juga dengan panjenengan, sehat selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wata’ala. Semoga semakin bertambah usia, bertambah pula ilmu kita, dan bertambah pula keyakinan dan ketaatan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Aamiin….

      Salam juga dari Jogja.

  2. Titik Asa berkata:

    Saya jadi berimajinasi, hati itu sebenarnya apa ya Mas? Berbagai keyakinan bisa bertahta disana, saling menguatkan bahkan bisa juga saling mengalahkan.
    Tulisan singkat ini membuat saya sedikit merenung saat membacanya…

    Salam,

    • Hati di sini tentu bukan bermakna sepotong daging yang berfungsi secara fisik, tetapi lebih bermakna lathifah atau sesuatu yang lembut dan bersifat ruhani. Meski keduanya ada hubungannya. Hati ini adalah jati diri seorang manusia. Selamat merenung ya, Pak Titik Asa.

      Salam dari Jogja.

  3. Lusi berkata:

    Keyakinan saya masih naik turun ustadz, perlu banyak2 berteman dengan orang2 alim. Bukan naik turun karena godaan agama atau keyakinan lain, apalagi yg mistis2. Tapi lebih ke kadang kecewa Allah tidak menolong saya dikala benar2 susah. Barulah kemudian memahami bahwa pertolongan Allah kadang tidak selalu berupa uluran tangan, tapi juga tempaan yg membuat saya kuat menolong diri sendiri.

    • Iya, Mbak Lusi, itulah di dalam nasihat berbahasa Jawa kita sering mendengar, “Wong kang shalih kumpulono” [berkumpullah dengan orang yang shalih. Tentu ini penting agar iman kita tetap terjaga, bahkan semakin meningkat. Aamiin…

  4. Terimakasih atas Pencerahannya dan Pengetahuannya, sangat bermanfaat ….
    Salam Kenal …

  5. Semoga kita semua selalu menjaga keyakinan kepada Allah SWT. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s