Ketika Suami Memarahi Istri

ustadz-muhaimin-azzet

Penulis di sebuah acara pernikahan di Jombang.

Sebuah Cerita Sebagai Ilustrasi

Ada seorang suami yang pulang dari kerja. Badannya capek, perutnya lapar, juga merasa haus. Sampai di rumah ingin langsung makan. Tapi, di meja makan kosong, tak ada apa-apa yang bisa dimakan. Sementara istrinya malah asyik bermain HP.

Sang suami terpancing emosinya. Ia marah-marah kepada istrinya.

Analogi dari Guru Mulia

Seorang guru mulia pernah bercerita sebagai analogi. Begini ceritanya, ada seekor anjing yang dilempar batu oleh seseorang. Anjing itu marah, lalu menggigit batu yang mengenainya. Itulah anjing yang bodoh.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Bila suami itu orang yang cerdas ruhaninya, mestinya ia segera mengambil pelajaran: Mengapa istrinya tidak masak? Siapakah Dzat Yang Mahakuasa yang membuat kejadian ini?

Suami hendaknya mengedepankan rasa sabar dan tidak memarahi istri. Jangan seperti anjing yang langsung menggigit batu yang mengenainya sebagaimana cerita di atas.

Sang suami mestinya segera menata hati, membersihkan diri, lalu mendekat dan memohon kepada Allah Swt. agar dikaruniai kebaikan yang hakiki.

Sebab, tiada selembar daun pun jatuh tanpa izin-Nya.

Inilah suami yang mendidik dan menjaga diri dengan baik (quu anfusakum), setelah itu menindaklanjutinya dengan mendidik dan menjaga istri dan anak-anaknya dengan baik pula.

Allah Swt. Berfirman

“Dan bergaullah dengan mereka (istri) menurut cara yang baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisaa’ : 19).

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu*) maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghaabun : 14).

*) Maksudnya: kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.

Teladan Nabi Muhammad Saw.

“Aisyah r.a. berkata, ‘Rasulullah Saw. bersabda, ‘Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Berdoa kepada Allah Swt.

Penting bagi suami untuk membangun cinta dan rasa kasih sayang, di antaranya dengan memohon kepada Allah Swt. pada setiap usai shalat dengan doa:

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lilmuttaqiina imaamaa.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqaan : 74).

Demikianlah sahabat, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi kita bersama.

Salam,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag , , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Ketika Suami Memarahi Istri

  1. ira i / ira noor berkata:

    Noted. Demikian juga dengan istri, nggak boleh su’udzon sama suami, benar nggak Mas Akhmad?

  2. inda chakim berkata:

    makasih sdh mengingatkan ngge pak, da0lm rmh tangga mmg butuh yg namanya kesabaran.

  3. ILYAS AFSOH berkata:

    Apakah Karena suami lupa tidak memberikan Nafkah Pak Ustadz?

  4. Tarry KittyHolic berkata:

    Sabar ini yang masih susah melakukannya pak. Kalau di rumah kami biasanya anak yang bikin agak emosi karena merajuk minta ini itu padahal bapaknya lagi capek 🙂

  5. faziazen berkata:

    suami yang ideal …………………

    memang amarah bisa bikin rumah panas…

  6. Biasanya jika diperlakukan dengan baik, lembut, penuh perhatian seorang istri rela melakukan apapun demi suaminya, ayah dari anak-anaknya, tanpa diminta, tanpa dipaksa.

    Memang sebaiknya kita, para istri dan suami, harus berkaca, sudahkah memperlakukan pasangan sesuai sunnatullah?

    Terima kasih pencerahnnya ya, Bapak.

    Salam dari bumi Borneo ;).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s