Menjadi Orangtua yang Menyenangkan Bagi Anak

akhmad-muhaimin-azzet-di-kampus-amikom-jogja

Penulis di Kampus AMIKOM, Yogyakarta.

Setiap orangtua pasti berharap agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Betapa bahagianya apabila anaknya ketika masih bayi tidak rewel, mudah beradaptasi ketika diajak berkunjung ke rumah saudara atau kenalan, apabila disapa keluarga tersenyum atau bahkan langsung tertawa, tidak susah makan, atau tidak buang air besar dan kecil (termasuk mengompol) sembarang waktu dan tempat.

Alangkah bahagianya para orangtua apabila anak-anaknya yang sudah menginjak usia sekolah dapat bersekolah dengan baik, bisa bangun pagi-pagi, tidak bermasalah dengan teman-temannya, rajin belajar, tidak suka berbohong, sopan, suka menolong, patuh kepada orangtua dan guru, apalagi rajin pula beribadah.

Namun, apabila anak tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya, susah makan, rewel, mudah memberontak, atau kalau sang anak sudah mulai besar ia suka berbohong, mencuri, menakali teman, atau malas belajar, tidak jarang orangtua kebingungan bagaimana cara mengatasinya.

Ketika sekali atau dua kali orangtua menasihati anaknya dan anaknya tetap tidak berubah, tak sedikit pula orangtua yang justru memarahi anaknya, memberikan hukuman, atau bahkan memukul sang anak. Ketika keadaan sudah begini, tidak banyak dari orangtua yang bisa berpikir dengan tenang untuk mencari jawab mengapa anaknya menjadi bermasalah.

Anak bermasalah yang dimaksudkan di sini adalah anak yang mempunyai perilaku tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orangtua yang berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua, keluarga, atau bahkan lingkungan.

Di dalam menangani anak bermasalah apakah dibenarkan melalui cara, misalnya, memarahi anak, mengurung anak, atau bahkan memukulinya?

Sudah tentu, cara-cara tersebut tidak dapat dibenarkan, di samping termasuk “kejahatan terhadap anak”, cara tersebut juga tidak efektif untuk mengubah perilaku anak bermasalah menjadi baik. Jika memang berubah menjadi baik, perubahan yang terjadi akan menyimpan kesan buruk dalam diri anak, atau perubahan itu tidak berlangsung lama karena tidak berangkat dari sebuah kesadaran.

Di sinilah tentu dibutuhkan orangtua yang menyenangkan dalam mendampingi perkembangan anak-anaknya. Apa pun yang terjadi pada anak, orangtua hendaknya dapat menghadapinya dengan baik.

Salam keluarga bahagia,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Menjadi Orangtua yang Menyenangkan Bagi Anak

  1. ira i / ira noor berkata:

    Assalamualaikum Mas Akhmad. Temanya kok pas banget dengan yang belakangan saya hadapi (minggu lalu saya posting di blog).

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Iya, Mbak Ira Noor, berarti sama ya temanya. Memang masalah ini penting untuk diperhatikan oleh setiap orangtua ya, Mbak. Ohya, makasih ya, Mbak, telah singgah kemari.

  2. alrisblog berkata:

    Assalamualaikum wr wb, ustad,

    Saya yakin dengan pendidikan kelemahlembutan akan menghasilkan anak yang baik dan berbakti dengan ortu. Semoga anak-anak kita jadi anak yang berbakti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s