Membangun Keyakinan yang Kuat

Masjid Kampus UII, foto Akhmad Muhaimin Azzet

Masjid Ulil Albab, Kampus UII, Jl. Kaliurang, Yogyakarta.

“Umat terdahulu selamat (jaya) karena kuatnya keyakinan dan zuhud. Dan umat terakhir kelak akan binasa karena kekikiran (harta dan jiwa) dan cita-cita kosong.” (HR. Ibnu Abi ad-Dunya)

Hal yang penting dan mendasar bagi setiap orang yang ingin meraih keberhasilan, keberuntungan, atau kesuksesan adalah keyakinan. Tanpa keyakinan, usaha yang dilakukan oleh seseorang seakan tanpa pijakan, rapuh, mudah goyah, apalagi ketika menghadapi rintangan. Bila sudah demikian, akan sangat sulit bagi seseorang untuk mencapai keberhasilan. Tanpa keyakinan, seseorang akan mudah mengalami kegagalan.

Betapa penting keyakinan dimiliki oleh setiap orang yang ingin sukses dalam mengarungi kehidupan ini. Keyakinan adalah hal yang paling mendasar dari seluruh sendi kehidupan manusia. Termasuk dalam kebutuhan yang paling asasi dari seluruh umat manusia, yakni kebutuhan beragama; tiada hal yang lebih mendasar dalam persoalan agama selain keyakinan. Kekuatan dari keyakinan inilah yang akhirnya membuat seseorang tangguh dan ikhlas dalam membangun ibadah kepada Allah Swt. maupun bermuamalah secara baik dengan sesama.

Sebagai dasar atau fondasi dalam beragama, maka keyakinan harus dibangun dengan kukuh dan menancap dalam-dalam di setiap sanubari orang yang beriman. Ibarat orang akan melangkah, ini adalah jalan pertama dan utama yang harus dilalui. Tidak boleh salah langkah, apalagi salah jalan. Salah melangkah sedikit saja, akan fatal akibatnya. Sebagai contoh, kita mesti beriman bahwa Allah Swt. itu ahad, bahwa Allah itu Maha Esa, sebagaimana firman-Nya berikut:

“Katakanlah: ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. al-Ikhlash [112]: 1-4).

Sungguh, keyakinan sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah Swt. tersebut adalah tauhid yang tidak bisa ditawar lagi. Bila kita, misalnya, menyekutukan Allah dengan yang lain, dan ini berarti—diakui atau tidak—menganggap bahwa Allah Swt. itu tidak Maha Esa. Atau, dalam kehidupan seseorang tidak bergantung sepenuhnya kepada Allah Swt. Atau, beranggapan bahwa Allah Swt. beranak dan diperanakkan. Atau, menganggap ada kekuatan lain yang setara dengan Allah Swt. Maka, hancurlah fondasi keimanan yang demikian. Pelakunya bukan lagi disebut mukmin, tetapi musyrik. Na’udzu billahi min dzalik!

Bila memang demikian, maka keyakinan adalah mutiara bagi orang yang telah beriman. Sebab, keimanan tidak mungkin terjadi bila di dalam hati seseorang masih ada keraguan. Keimanan tanpa keyakinan sama dengan orang yang berkata-kata indah, tetapi sebenarnya itu adalah kebohongan; tidak berasal dari kebenaran yang ada dalam hati. Intinya, tidak mungkin keimanan tertancap dalam sanubari seseorang tanpa adanya keyakinan.

Penjelasannya begini, jika seseorang telah beriman, atau mengaku telah memercayai sesuatu, namun sebenarnya di dalam hatinya masih terselip keraguan, sama sekali orang semacam ini belum bisa dikatakan sebagai orang yang percaya atau beriman. Sebab, di dalam hatinya masih ada keraguan, belum tertanam keyakinan. Orang yang mempunyai keyakinan, tidak mungkin ada lagi keraguan di dalam hatinya.

Semoga kita termasuk orang yang mempunyai keyakinan yang kuat.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Iman dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Membangun Keyakinan yang Kuat

  1. sunarno berkata:

    lama tak berkunjung, turut menyimak hikmahnya

  2. ira i / ira noor berkata:

    Jika sedang dirundung masalah kadang2 keyakinan dan keimanan menjadi turun, apalagi kl rasanya sudah tidak ada jalan keluarnya. Itu godaan setan ya Mas Akhmad, alhamdulillah orang2 terdekat selalu mengingatkan unt selalu berdzikir. Terima kasih artikelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s