Apakah Kita Mau Jadi Orang Kebanyakan?

Shalat, Ibadah, Bersyukur, Masjid Baiturrahim, Sopalan Sabo, foto Akhmad Muhaimin Azzet

Masjid Jami’ Baiturrahim, Sopalan Sabo, Maguwoharjo, Depok, Sleman.

Saya tertegun pada saat membaca firman Allah Swt., “aktsaran naasi laa yasykuruun” di al-Baqarah ayat 243. Lebih lengkap terjemahannya begini:

“Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. al-Baqarah [2] : 243).

Ungkapan “kebanyakan” manusia tidak bersyukur ini juga disampaikan oleh Allah Swt. dalam ayat berikut:

“Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. al-Mu’min [40] : 61).

Betapa jelas disebutkan bahwa kebanyakan manusia tidak bersyukur? Padahal, bersyukur atas segala nikmat yang telah kita terima adalah kunci penting agar kita bisa merasakan sebuah kebahagiaan.

Bagi orang yang bisa bersyukur, seberapa pun anugerah yang diterima dalam kehidupan ini akan bisa dinikmatinya dengan bahagia. Bahkan, tidak ada istilah anugerah “kecil” dalam hal ini. Semua dianggap besar karena berasal dari Dzat Yang Mahabesar. Anugerah itu diterima dengan senang hati karena seberapa pun itu dianggap sebagai anugerah yang indah. Sungguh betapa bahagia bagi orang yang seperti ini.

Oleh karena itu, tentu kita tidak ingin menjadi orang kebanyakan. Yakni, orang-orang yang tidak bisa bersyukur atas nikmat dari-Nya. Sebab, orang kebanyakan adalah orang yang merugi. Mengenai hal ini, mari kita perhatikan firman Allah Swt. berikut:

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr [103] : 2-3).

Meski secara spesifik kata “kebanyakan” tidak disebut dalam surat al-‘Ashr tersebut, namun yang dimaksudkan orang kebanyakan adalah orang-orang yang merugi. Bahkan, lebih mendasar lagi, setiap orang sesungguhnya merugi, kecuali orang yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran.

Maka, bila ingin menjadi orang yang bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup ini, jangan lagi kita menjadi orang kebanyakan. Bila tidak ingin merugi dalam kehidupan, sungguh jangan pula menjadi orang kebanyakan.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Ihsan dan tag , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Apakah Kita Mau Jadi Orang Kebanyakan?

  1. Tita Kurniawan berkata:

    Semoga kita tidak menjadi bagian dari orang yang merugi ya pak azzet. Amin

  2. jampang berkata:

    karena banyak yang nggak bisa, makanya golongan yang bersyukur jadi sedikit ya, pak.
    mudah2an kita bisa masuk golongan yang seidkit itu

  3. Nur Ahmadi berkata:

    Terimakasih pencerahannya pak Azzet, semoga saya bisa menjadi bagian dari sedikit orang yang bukan kebanyakan itu. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s