Iman dan Malu

iman dan malu, hikmah, renungan, akhmad muhaimin azzet, masjid, purworejoDari Ibnu Umar r.a., ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Malu adalah sebagian dari iman.” (Muttafaq Alaihi).

Malu adalah sebagian dari iman; keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari iman. Orang yang beriman adalah orang yang mempunyai rasa malu.

Dalam hadits yang lain, yakni dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Betapa penting seseorang untuk mempunyai rasa malu. Hal ini karena malu berbanding lurus dengan kebaikan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Saw. juga pernah bersabda, “Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan.”

Dengan demikian, orang yang mempunyai sifat malu maka kelakuannya pun cenderung dalam kebaikan. Akan berbuat maksiat, ia sangat malu kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang beriman yang demikian maka ganjarannya adalah surga.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sifat malu adalah dari iman dan keimanan itu di surga, sedangkan perkataan kotor adalah keburukan tabiat dan keburukan tabiat itu di neraka.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Tirmidzi.

Namun, apabila seseorang sudah tidak mempunyai rasa malu lagi berarti ia telah meninggalkan keimanan. Orang yang semacam ini, oleh Rasulullah Saw., dipersilakan melakukan apa saja yang dikehendakinya. Sebagaimana beliau Saw. bersabda, “Kalau kamu sudah tidak punya malu lagi, lakukanlah apa yang kamu kehendaki.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari. Sudah barang tentu, siapa saja yang berbuat sesuatu akan dimintai pertanggungjawabannya di pengadilan akhirat nanti.

Semoga kita termasuk orang yang mempunyai rasa malu. Semoga keimanan tumbuh berkembang di hati kita dan semakin kuat dalam ketaatan kepada-Nya.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Iman dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Iman dan Malu

  1. Pendar Bintang berkata:

    Terima kasih pencerahannya Ustadz 🙂

  2. alrisblog berkata:

    Itulah kini yang kurang dimiliki para pemimpin negeri ini: rasa malu. Rupanya jabatan sudah melenakan mereka.

  3. kinanthi8p berkata:

    Konteks “malu” saat ini (kadang) kita temui dilekatkan pada hal yg seharusnya dilakukan tapi merasa malu karena di lingkungan dianggap tidak umum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s