Beriman Secara Benar

Masjid Salman, Tegalsari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, foto Akhmad Muhaimin AzzetAllah Swt. berfirman:

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hujurât [49]: 14).

Orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat sesungguhnya telah sah menjadi orang Islam. Akan tetapi, ia belum termasuk orang yang beriman apabila belum mempunyai keyakinan yang benar-benar masuk ke dalam hati.

Jadi, iman tidak sekadar pengakuan secara lisan, akan tetapi keyakinan itu benar tumbuh di dalam hati. Selanjutnya, sebagai bukti dari keimanan seseorang yang ada di dalam hati maka ia harus menunjukkan ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Beriman secara benar adalah yang diucapkan dengan lisan, dikuatkan dengan hati, dan dibuktikan dengan perbuatan.

Sebagaimana Ali bin Abi Thalib r.a. menyampaikan bahwa iman itu adalah ucapan dengan lidah, kepercayaan yang benar dengan hati, dan perbuatan dengan anggota tubuh.

Menurut Aisyah r.a., iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota tubuh.

Sedangkan Imam al-Ghazali berkata bahwa iman itu adalah pengakuan dengan lisan, membenarkan pengakuan itu dengan hati, dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota tubuh).

Demikianlah, semoga kita dapat benar-benar menjadi orang yang beriman.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Iman dan tag , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Beriman Secara Benar

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Amazzet…

    Keyakinan hati dan perbuatan dengan melakukan apa yang diperintah dan meninggalkan apa yang dilarang adalah bukti keimanan dan ketaatan kita kepada setiap suruhan Allah SWT. Selagi kita belum teruji dengan cubaan yang mampu menguatkan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah selagi itu iman masih belum bertanda di jiwa kita. Lihat sahaja contoh sahabat saidina Bilal bin Rabah. Mudahan kita mendapat iktibar dari beliau.

    Salam takzim dari Sarikei, Sarawak.

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Iya, Mbak Siti Fatimah Ahmad, betapa keimanan itu perlu bukti dalam kehidupan nyata. Terima kasih banyak ya, Mbak, tambahan komentar dari Mbak Fatimah sungguh penting. Semoga kita termasuk orang mukmin yang senantiasa mendapatkan ridha-Nya. Aamiin…

      Salam dari Jogja.

  2. Silakan mas Amazzet, sudi menerima AWARD BERGAYA SENIDIRI sempena Ulang Tahun Ke-5 Kelahiran Blog LMGS G2 di maya pada. Semoga silaturahmi ini mendapat kebaikan di sisi Allah SWT. Aamiin.

    https://webctfatimah.wordpress.com/2015/08/15/ct346-launching-banner-baru-lmgs-g2-ulang-tahun-ke-5-bergaya-sendiri/

    Salam sejahtera.

    • Alhamdulillaah…, Selamat ya, Mbak Siti Fatimah Ahmad, semoga semakin semangat berbagi kebaikan melalui sebuah media yang bernama blog. Award tentu akan saya terima dengan senang hati. Terima kasih banyak ya, Mbak 🙂

  3. Mechta berkata:

    aamiin … terima kasih sudah diingatkan, Ustadz…

  4. Desi Namora berkata:

    Trimakasih sudah diingatkan Pak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s