Mendekatkan Diri kepada Allah dengan I’tikaf

Masjid Salman Tegalsari Wedomartani Ngemplak Sleman, foto Akhmad Muhaimin Azzet, Ramadhan, I'tikaf, IbadahAllah Swt. berfirman:

“…Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid….” (QS. al-Baqarah [2]: 187).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari, dan ketika tahun kewafatannya beliau Saw. beri’tikaf selama dua puluh hari. (HR. Bukhari dan Abu Daud).

I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Menurut Ibnu al-Qayyim, tujuan i’tikaf adalah, “Untuk menghubungkan hati kepada Allah Swt. dengan mengalihkan hati dari segala sesuatu selain Allah Swt. dan mengubah segala kesibukan kita dengan menyibukkan diri dengan-Nya serta mengalihkan segala sesuatu dari selain Dia, dan hanya tertuju kepada-Nya.”

I’tikaf adalah sebuah amalan yang dapat dilakukan setiap waktu. Akan tetapi, ketika memasuki bulan Ramadhan, amalan ini jangan sampai lupa untuk dilakukan. Apalagi, ketika Ramadhan telah menapaki hari ke-20, inilah saatnya bagi kita untuk mengencangkan ikat pinggang dan beri’tikaf dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Nabi kita Muhammad Saw. telah memberikan teladan mengenai hal ini.

Tidak ada batasan berapa lama seseorang dalam melakukan i’tikaf. Sekurang-kurangnya berhenti sebentar. Akan tetapi, bagi kita yang menginginkan keutamaan di bulan Ramadhan, tentu akan melakukan i’tikaf tidak dalam waktu yang sebentar sekali. Setidaknya, memuji-Nya dengan lantunan dzikir, beristighfar, dan memohon kebaikan kepada-Nya. Dan, satu hal yang harus menjadi perhatian kita, ketika akan i’tikaf jangan sampai lupa untuk berniat i’tikaf.

Semoga dengan i’tikaf kita semakin dekat kepada Allah Swt. Dengan demikian, semoga hati kita kian tenang, jalan hidup senantiasa dalam hidayah, sehingga bahagia di dunia, juga di akhirat. Allaahumma aamiin…

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

Tentang Akhmad Muhaimin Azzet

Menulis untuk media cetak, buku, dan blog. Bekerja juga sebagai editor freelance di beberapa penerbit buku. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-Muhtadin, Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Islam dan tag , , . Tandai permalink.

18 Balasan ke Mendekatkan Diri kepada Allah dengan I’tikaf

  1. jampang berkata:

    saya belum pernah i’tikaf semalaman. paling cuma niat doank ketika sebelum atau sesudah shalat, nggak lama 😦

  2. dani berkata:

    Maturnuwun Pak Ustadz. Saya belom pernah i’tikaf lama memang Pak. Mama papa saya yang biasanya waktu Ramadhan dari jam dua pagi sampai subuh. Bapak Ibuk di Surabaya juga.

  3. AmangTani berkata:

    Amin, artikel nya bgus.. Slm kenal mas..

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Amazzet…

    Amalan iktikaf di rumah Allah merupakan satu didikan Allah SWT untuk mencintai pertemuan dengannya di rumah-NYA. Saat kita melangkah masuk ke masjid, semua urusan dunia harus dikesampingkan kerana kita sedang “menuju akhirat”. Mendiidik diri untuk berlama di masjid, bukan mudah kerana tarikan dunia lebih kuat mengeluti jiwa kita. Mudahan amalan iktikaf di mana-mana masjid di muka bumi ini menjadi keinginan kita di mana sahaja berada.

    Salam takzim dari Sarikei, Sarawak.

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Mbak Fatimah, terima kasih banyak ya telah singgah kemari. Semoga kita termasuk orang yang memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya di bulan Ramadhan, termasuk di antaranya dengan i’tikaf di masjid. Sekali lagi makasih banyak ya, Mbak.

      Salam takzim juga dari Jogja.

  5. Asmadi berkata:

    Beri’tikaf memang menambah kadar keimanan kita, sehingga kita lebih dekat kepada Allah SWT, namun i’tikaf dimasjid yang bercampur dengan anak-anak kecil dan bila sudah terlalu ramai jadi beribadah kurang khusyu’…

    Salam ukhuwah fillah…

    • Jika keadaannya demikian, tentu kita bisa memilih i’tikaf di malam hari ya, Mas Asmadi, di mana anak-anak sudah berangkat tidur. Atau, kita belajar untuk bisa khusyu’ meski suasana di sekitar ramai. Ibaratnya, kita memang mendengar suara-suara, namun kita tidak fokus pada suara-suara atau keadaan di sekiling kita itu, sebab kita hanya fokus kepada Allah Swt.

      • Asmadi berkata:

        Iya seperti itu Pak,
        maksudnya anak-anak yang suka i’tikaf dimasijid, kalau sudah pada bangun banyak ributnya he…

  6. adi pradana berkata:

    Allahumma amin…

  7. Taqorrub berkata:

    I’tikaf bisa mendekatkan diri sama yang diatas ya gan, ane jarang nih i’tikaf di masjid 😉

  8. sitravellingaddict berkata:

    idem sama komen diatas jarang itikaf 😦
    sibuk ama kegiatan2 yang ga penting

    mampir-mampirlah ke blog ala-ala gue

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s